Tampilkan postingan dengan label Artikel Kelautan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kelautan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 September 2010

Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dilebur ke Badan Pengawasan Laut


Jakarta, Kompas - Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP berjanji tidak akan menghentikan sepenuhnya kegiatan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan.
Namun, kegiatan kementerian akan lebih difokuskan pada kepentingan ekonomi. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad di Jakarta, Jumat (17/9), menegaskan hal itu, menyikapi keluhan sejumlah kalangan tentang rencana KKP menghentikan kegiatan pengawasan mulai tahun 2013.
Pihaknya, ujar Fadel, akan segera melakukan koordinasi lintas kementerian terkait fungsi pengawasan laut. Peran pengawasan KKP diusulkan untuk dilebur dengan instansi lain dalam satu badan pengawasan laut.
”Kami hanya menjalankan arahan presiden, yakni KKP hanya mengurusi prosperity (kemakmuran) dan bukan security (keamanan). Tentunya tidak akan menghapus sepenuhnya fungsi pengawasan KKP, tetapi dikurangi dan dilebur ke dalam badan yang lebih kuat,” ujarnya.

Fadel menilai, peran pengawasan perikanan oleh KKP masih rancu. Itu karena KKP mengurusi aparat pengawasan, tindak pidana perikanan, sampai pengadilan ad hoc perikanan.
”KKP sudah seperti kementerian yang superbody. Ke depan, kami hanya akan menangani masalah ekonomi, sedangkan urusan keamanan biar dikendalikan oleh TNI dan kepolisian,” ujarnya. Pengawasan perikanan di laut lepas akan dialihkan ke TNI Angkatan Laut. Aparat KKP mengawasi penangkapan ikan ilegal dan terumbu karang.

Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana mengemukakan, pengalihan fungsi pengawasan KKP bertentangan dengan UU 45/2009 tentang Perikanan, serta Perpres No 24/2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara, serta Susunan Organisasi, tugas, dan fungsi Eselon I Kementerian Negara.
Dalam aturan tersebut, dicantumkan tentang tugas KKP dalam pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. Saat ini terdapat lima instansi yang mengurus laut, yakni Bea dan Cukai, kepolisian, Kementerian Perhubungan, TNI, serta KKP.
read more "Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Dilebur ke Badan Pengawasan Laut"

Selasa, 24 Agustus 2010

Pengawas Perikanan; Penjaga Terdepan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Indonesia

Pengawas Perikanan adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas untuk mengawasi tertib pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perikanan (Pasal 66 UU 45 tahun 2009). Pengawasan tertib pelaksanaan peraturan
perundang-undangan meliputi:
a. kegiatan penangkapan ikan;
b. pembudidayaan ikan, perbenihan;                           
c. pengolahan, distribusi keluar masuk ikan;
d. mutu hasil perikanan;
e. distribusi keluar masuk obat ikan;
f. konservasi;
g. pencemaran akibat perbuatan manusia;
h. plasma nutfah;
i. penelitian dan pengembangan perikanan; dan
j. ikan hasil rekayasa genetik.

Pengawas Perikanan adalah ujung tombak pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan Indonesia. Dalam pelaksanaan tugasnya, pengawas perikanan langsung bersinggungan dengan stakeholder di bidang perikanan, yang bisa saja melakukan pelanggaran Undang-undang Perikanan.


Dengan tugas di atas, menunjukkan bahwa resiko kerja seorang Pengawas Perikanan sangat tinggi. Dalam contoh kegiatan penangkapan ikan saja, seorang pengawas perikanan bertugas mengawasi kapal perikanan,dengan rincian kegiatan seperti memeriksa dokumen kapal dan cek fisik kapal, mengeluarkan ijin beroperasi kapal perikanan (Surat Laik Operasi) dan melakukan patroli rutin pengawasan kapal perikanan. Dalam pelaksanaan tugas ini saja seorang pengawas harus berhadapan dengan awak kapal ikan yang memiliki tingkat emosi khas pelaut yang sangat labil. Tidak menutup juga kemungkinan para awak kapal ikan yang merasa kapalnya melanggar peraturan, melakukan pembangkangan/perlawanan kepada pengawas perikanan.



Ada salah satu kejadian yang bisa sedikit menggambarkan betapa besarnya resiko tugas pengawas perikanan. Teman saya yang sedang mengikuti patroli rutin pengawasan kapal ikan, mengalami kecelakaan di kapal saat sedang beroperasi. Karena ombak, badannya terhempas di atas kapal dan kakinya terjepit border kapal, sehingga menyebabkan tulang metatarsal kakinya patah dua dan harus dioperasi (pasang pen).

Saat ini kondisi teman saya sudah membaik, walaupun masih harus berjalan dengan tongkat. Kita patut hargai perjuangan pengawas perikanan menjaga sumberdaya kelautan dan perikanan Indonesia.

Kejadian yang terjadi baru-baru ini ketika tiga orang Pengawas Perikanan Kep. Riau ditangkap oleh Police Marine Malaysia, justru ketika sedang menegakkan hukum dan menjaga sumberdaya perikanan kita, semakin menunjukkan tingginya resiko kerja Pengawas Perikanan. Segala resiko tetap diterima demi tetap lestarinya sumberdaya kelautan dan perikanan Indonesia. Tidak salah jika Pengawas Perikanan merupakan salah satu pahlawan kelautan dan perikanan Indonesia. 

Masih banyak lagi tugas pengawas perikanan lainnya yang pada dasarnya bersinggungan langsung dengan masyarakat pesisir yang dikenal sangat keras. Sebagai aparat penegak hukum, khususnya di laut dan wilayah pesisir, pengawas perikanan berhadapan dengan resiko ganasnya laut dan kerasnya masyarakat pesisir. Dengan beban kerja dan resiko tinggi seperti di atas, sudah sepantasnya Pengawas Perikanan mendapat apresiasi lebih dari pemerintah maupun masyarakat dan tidak dipandang sebelah mata.
read more "Pengawas Perikanan; Penjaga Terdepan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Indonesia"

Minggu, 22 Februari 2009

Potensi Rumput Laut sebagai Obat

Berdasarkan hasil studi pustaka tentang potensi rumput laut sebagai obat diketahui 23 jenis rumput laut berpotensi sebagai obat meliputi 2 jenis (9 %) dari divisi Chlorophyta, 8 jenis (35 %) dari divisi Rhodophyta dan 13 jenis (56 %) dari divisi Phaeophyta.

Rumput laut dari divisi Rhodophyta, marga Gracilaria diketahui kaya akan antilipemik yang digunakan sebagai obat penyakit gangguan dalam. Laurenccia dapat digunakan untuk antivirus, antibakteri dan antijamur. Gelidella dapat digunakan untuk penyakit gangguan dalam, antibakteri dan antijamur. Di Jepang marga dari Gelidium digunakan sebagai pendingin dan scrofula (penyakit kelenjar pencernaan) adalah Gelidiella acerosa.

Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja W (1990) pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) dan methyl palmitat. Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang.

Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing). Di kawasan Asia Timur spesies Rhodymenia pelmata digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.

Rumput laut yang berpotensi sebagai obat dari divisi Chlorophyta yang diperoleh adalah dari marga Ulva, Enteromorpha, Cladophora dan Caulerpa . Marga dari Ulva diketahui mempunyai aktivitas antibakteri dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Ulva dapat digunakan untuk pengobatan cacingan misalnya Ulva lactuca digunakan untuk menyembuhkan penyakit kelenjar. Di Cina digunakan untuk menyembuhkan penyakit panas (Hope et al. 1979).Enteromorpha diketahui mempunyai aktivitas antibakteri. Caulerpa dapat digunakan sebagai antijamur. Caulerpa racemosa diketahui bersifat racun terhadap beberapa organisme laut. Hasil dari ekstrak Caulerpa dapat diisolasi senyawa kimia seperti caulerpicin, caulerpin dan sterol. Caulerpicin menimbulkan rasa pedas dan memyebabkah efek anesthesia yang ringan bila ditempelkan pada mulut, sehingga aktivitas neurotropik ini mempunyai nilai klinis. Caulerpicin juga dapat diisolasi dari Caulerpa racemosa.

Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja (1990) pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) dan methyl palmitat. Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang.

Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing). Di kawasan Asia Timur spesies Rhodymenia indica digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.

Rumput laut dari divisi Phaeophyta yang diperoleh dari ke dua pantai tersebut yang berpotensi sebagai obat diantaranya marga Padina, Dictyota dan Sargassum. Padina dan Dictyota diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, sedangkan aktivitas antitumor dimiliki oleh Dictyopteris. Marga dari Sargassum diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, antitumor, menurunkan tekanan darah tinggi dan gangguan kelenjar gondok (Atmadja et al. 1990). Substansi dari S. duplicatum adalah efektif dalam meningkatkan efektivitas serum lipolitik. Substansi hypoglyemic mampu menurunkan gula darah sebesar 17%, dan dalam jumlah prosentase tertentu menunjukkan aktivitas antilipemic (Hope et al. 1979).

Disadur dari Insan dan Widyartini. JENIS-JENIS RUMPUT LAUT YANG BERPOTENSI SEBAGAI OBAT YANG TUMBUH PADA BERBAGAI SUBSTRAT DI PANTAI RANCABABAKAN NUSAKAMBANGAN CILACAP
read more "Potensi Rumput Laut sebagai Obat"

Minggu, 15 Februari 2009

Biofuel dari Rumput Laut

Rumput laut memiliki potensi sebagai bahan baku biofuel. Kandungan karbohidrat yang tinggi dari rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku penghasil bioetanol dan biogas. Di Norwegia rumput laut Laminaria telah dimanfaatkan sebagai penghasil bioetanol (Horn et al, 2008) dan di Jepang telah memanfaatkan Ulva dan Laminaria sebagai penghasil biogas (Matsui et al., 2006).Hasil penelitian oleh Abdillah (2008) menunjukkan bahwa rumput laut berpotensi sebagai bahan penghasil gas metan. Rata-rata kadar metan yang dihasilkan dari fermentasi anaerob tiga jenis rumput laut Padina, Gracilaria dan Sargassum mencapai 19 %.Sumberdaya kelautan seperti rumput laut menyimpan potensi bioteknologi kelautan yang sangat besar.
read more "Biofuel dari Rumput Laut"